Senin, November 17, 2008

Kenangan yang Tak Ingin Saya Kenang

Ada di dalam hidup ini kejadian yang tak ingin saya kenang karena seluruhnya cuma berisi soal yang memalukan. Saya amat gemar menulis surat cinta di zaman sekolah. Dan ketika surat-surat itu saya baca ulang bertahun kemudian, hasilnya adalah aib berkepanjangan. Membayangkan surat-surat ini dibaca orang bisa membuat saya mati berdiri. Akhirnya gunungan surat itu saya sobek-sobek menjadi serpihan, saya bakar agar lenyap jadi asap. Sekarang baru saya sadari, betapa tidak perlu tindakan itu. Betapa ingin saya berani memungut kembali satu-persatu kenangan itu, betapapun ia bikin malu. Karena hidup yang sekarang, pasti tidak disusun cuma berdasarkan kebenaran dan kemuliaan. Di antaranya, ia pasti disusun juga dengan kebodohan, aib dan kekeliruan.

Maka kedudukan aib dan kesalahan itu, sesungguhnya setara dengan kebenaran dan keberhasilan. Ia sama-sama menjadi batu penyangga hidup saya. Jadi ia tak perlu diruntuhkan. Maka di hari-hari ini, saya kembali asyik mengenang aib itu satu persatu, walau untuk itu saya harus memompa seluruh keberanian. Saya di hari ini, adalah saya yang bisa mengeluhkan gaya anak-anak sekolah yang naik motor setara orang kesurupan. Tapi di masa lalu, gaya itu pula yang saya peragakan. Malu rasanya naik motor pelan. Jika malam, lampu harus dimatikan biar tambah seram. Semakin gelap, semakin kencang, semakin bikin kaget orang, semakin girang perasaan. Jika menikung harus dengan kemiringan penuh. Malah jika belum nyebur got, rasanya belum seorang jagoan.

Di satu sisi, hidup saya sebenarnya sudah mulai berprestasi. Sejak SMA saya telah mulai bisa membiayai diri lewat honor kartun yang mulai ramai dimuat di media massa. Begitu menjadi mahasiswa pemula, saya sudah bisa membeli motor meskipun manula. Bangga sekali rasanya punya motor pertama, walau karena umurnya, ia mulai tak tahan cuaca, Jika hujan tiba, ngadat mesinnya. Tetapi prestasi di satu sisi ini, cuma kekeliruan di sisi yang lain. Sejak punya motor saya mulai dijauhi teman-teman karena dianggap lebih sibuk mengurus motor katimbang mengurus mereka. ''Ia tak pernah lagi mudah dicari di rumah,'' kata teman yang kecewa. Mereka benar. Saya memang jadi jarang di rumah, karena harus ke bengkel melulu!

Tetapi apapun alasannya, prestasi itu, jika belum matang waktu, memang cuma seperti taplak meja. Jika ia ditarik kemari, ia akan bolong di sana. Motor tua itu saya jual untuk ganti yang baru. Lebih keren dan kencang lajunya. Ini prestasi lagi. Tetapi prestasi baru selalu diikuti oleh kesalahan yang baru, itulah anugerah yang saya sebut sebagai belum matang waktu itu. Bakat ngebut saya mendapat dukungan penuh dari motor baru ini termasuk munculnya sikap lupa diri sebagai bakat baru. Meksipun belum punya SIM, tetapi ke manapun, saya berani pergi. Maka ketika suatu kali saya terjaring operasi, saya panik sekali sehingga memutuskan tindakan yang tak habis saya mengerti hingga di hari ini: yakni melarikan diri.

Tapi sekencang-kencang saya berlari, saya pasti bukan penjahat tangguh melainkan sekadar mahasiswa ingusan yang kurang tahu menakar diri. Maka cuma dalam satu sentakan gas, polisi yang mengejar itu telah berhasil mencengkeram krah saya. Tak ada pilihan lain kecuali berhenti. Polisi ini marah sekali. Tak ada lagi negosiasi apapun. Telak sudah dosa-dosa saya. Tanpa SIM, kabur pula. Motor itu ditahan dan saya harus pulang jalan kaki.

Apa perasaan saya waktu itu? Terhina dan merasa sangat terzalimi. Perasaan inilah yang ingin saya kenang, karena betapa berbahaya sebetulnya kerancuan berpikir ini. Padahal lihatlah daftar kesalahan saya itu: ngebut adalah kesalahan pertama, tanpa SIM adalah kesalahan kedua, kabur adalah kesalahan ketiga. Jadi sempurna. Beruntung cuma motor saya yang ditahan, bukan saya yang harus menghuni tahanan. Tetapi orang yang lagi beruntung inilah justru orang yang merasa dizalimi lalu menggunakan seluruh koneksi untuk membela diri. Kenangan buruk ini adalah pelajaran yang amat saya ingat betapa persoalan terbesar saya sebagai manusia yang paling pertama adalah kemampuan melihat kesalahan diri sendiri!

(Prie GS/CN05)

Rabu, November 12, 2008

Sukses Emosional Saya

Saya memiliki teman yang cuma dengan melihatnya saja telah membuat saya menjadi lelah. Teman ini jika hendak berangkat pergi paling terlihat terburu-buru tetapi jika telah tiba di tujuan ingin buru-buru kembali. Padahal tidak ada sesuatu yang genting. Tidak pula ia ditunggu seseorang, tidak pula dia dikejar waktu. Yang selama ini mengejarnya tak lebih dari perasaanya sendiri. Tetapi begitulah sebetulnya perasaan kita pada umumnya, tak terkecuali saya. Selalu ada watak buru-buru meskipun tidak ada yang memburu.

Perasaan seperti ini, jika tidak dikendalikan akan sangat melelahkan. Dan saya kenyang menderita kelelahan oleh sebab yang entah itu. Akhirnya saya segera menyapa kecerdasan emosional saya untuk datang membantu. Ini sebuah kecerdasan yang tidak istimewa karena setiap dari kita memilikinya. Kecerdasan ini sanggup meringankan seluruh beban persoalan karena setiap beban ternyata bisa ditafsir ulang.

Hari itu, misalnya, saya tidak menyangka jika kepergian kami ke sebuah keramaian cuma akan berakhir di kekacuan. Sopir kami, seorang yang telah kami anggap keluarga sendiri, kami biarkan mencari tempat parkir semaunya, karena dengan handphone, kami bisa berkoordinasi kapan saja. Sikap gampangan ini ternyata berbahaya karena kami lupa menghitung, bahwa handpohne yang dibawa Pak Sopir, ternyata cuma menyisakan sedikit baterai saja. Maka tepat ketika kami berpisah itulah, baterai itu ada di titik akhirnya. Dan seterusnya, hubungan kami berdua gelap total. Kami seperti pesawat terbang tanpa radar. Sesungguhnya dekat tapi tak saling melihat.

Maka ketika kami sudah rampung beracara, keadaan menjadi tidak bermutu. Kami menunggu seseorang yang tidak sadar ditunggu. Jika dibiarkan sama-sama menunggu, sampai kiamat tiba pun semua akan tetap berada di tempat itu. Meskipun kami masih berada di kota kami sindiri, tempat itu terlalu luas untuk kami telusuri. Ada ribuan mobil berserakan. Baru melihatnya saja kami sudah pening kepala, apalagi jika harus menelusurinya satu persatu. Tetapi jika sama sekali tidak berusaha, keadaan pasti akan tambah buruk belaka. Jadilah kami semua bergiliran mencari di mana gerangan Pak Sopir kami. Semua telah mendapat giliran, tetapi gaya parkir sopir kami seperti sengaja memilih di dasar bumi.

Selanjutnya kami cuma bisa lelah dan gemetaran karena terlalu banyak mencari dan berjalan. Setelah lewat sekian jam harus menjalani ketidak pastian, jebol juga kesabaran kami. Muka istri sudah mengekerut sedemikian rupa. Anak-anak sudah pucat dan kehilangan kata-kata dan saya sendiri hampir meledak dalam kemarahan demi melihat waktu terbuang percuma. Tetapi sebelum semuanya berjalan lebih buruk saya menoleh pada kecerdasan emosional saya itu. Itulah kecerdasan yang amat pintar memanipulasi keadaan dengan sudut pandang baru. Inilah uji cobanya.

Saya mulai dari mengumpulkan anak-anak saya yang telah loyo itu. Pertama saya meminta mereka membayangkan jika seandainya kejadian ini tidak berlangsung di kota sendiri, melainkan di luar negeri, tempat yang bukan cuma jauh tetapi juga asing. Permintaan ini langsung menumbuhkan sorot mata yang berbeda dari mereka. Meskipun mereka telah lelah dan marah, tetapi mereka toh tidak terlalu jauh dari rumah. Jika mau, soal ini selesai cukup dengan cara naik taksi. Saya melihat energi mereka muncul kembali dan itulah saat untuk meneruskan permainan ini. Saya meminta mereka membayangkan soal lanjutannya, yakni seandainya mereka bukan cuma jauh tapi juga sendiri, tanpa teman, tanpa orang tua dan harus menghadapi kesulitannya seorang diri. Saya meminta mereka menyusun skenario, sekaligus memprakteknnya.

Hasilnya ajaib, anak-anak saya itu segera berembuk, menghubungi petugas keamanan, menyisir lokasi dan melakukan pencarian sambil membayangkan sebagai detektif yang harus memecahkan misteri. Tak sia-sia, sopir kami ketemu juga dalam keadaan yang sama parahnya: nafasnya memburu, sibuk berputar kesana-kemari dan akhirnya bertabrakan di sebuah lokasi.

Akhirnya kami pulang dengan perasaan gembira. Anak-anak bangga dengan keberhasilannya sebagai detektif, orang tua ini gembira demi melihat anak-anaknya lulus ujian dan sopir kami juga gembira karena kembali menemukan majikan!

(Prie GS/CN09)

Sabtu, November 08, 2008

The Pianist in The Shopping Mall

SESUATU yang sampai kepadamu, bertugas membawa pesan untukmu. Begitu juga dengan buku Paulo Coelho ini. Seorang teman memberikan buku ini kepadaku, dalam edisi bahasa Inggris, Like The Flowing River, karena menurutnya: ''Mirip gaya tulisanmu.''

Wah, aku dimirip-miripkan Paulo Coelho penulis The Alchemist yang dahsyat itu? Inilah penulis penerima Chrstal Award itu, buku-bukunya telah diterjemahkan dalam 62 bahasa dan The Alchemist telah terjual tak kurang dari 75 juta kopi di seluruh dunia. Dan penulis inilah yang dikatakan mirip dengan gayaku? Hehehe… biar saja. Siapa tahu benar.

Karena setelah saya teliti, oo bisa dimengerti. Buku ini berisi kumpulan tulisan-tulisan pendeknya, semacam refleksi. Sedang aku juga punya kolom di tabloid tempatku bekerja, yang kemudian disiarkan di sebuah radio, namanya juga refleksi. Eh siapa tahu, Paulo Coelho diam-diam adalah pembaca tabloidku dan juga pendengar siaran radioku. Jadi kami memang saling mempengaruhi.

Walau spekulasi yang keterlaluan ini harus segera diakhiri. Karena buku ini memang hendak datang sebagai guru, seperti Coelho yang memang layak jadi guruku. Salah satu bagiannya, berisi tulisan yang judulnya aku kutip sebagai judul tulisan ini The Pianist in The Shopping Mall. Ia tentang pianis dari Georgia, negara yang hingga kolom ini aku tulis masih tercabik-cabik konflik itu.

Pianis yang paripurna teknisnya, memainkan musik-musik tinggi setara orang bergembira saja. Tetapi karena nasib, ia tidak tampil di gedung opera, melainkan sekadar main di mall, dengan tanpa seorang pun tergerak menontonnya. Tetapi pianis ini, meskipun tanpa penonton, memainkan pianonya dengan jiwa penuh-seluruh.

Tak seorangpun? Ternyata tidak. Karena setidaknya ada dua orang yang menontonnya, yakni ya Paulo Coelho sendiri bersama sahabatnya, yang kebetulan seorang pemain biola terkemua di dunia. Atau jika pun dua orang ini terpaksa tak ada, pianis ini akan tetap menggila, karena ia bermain cukup dengan jiwanya. Dan jika permainan itu telah di jiwa, Tuhan sendiri yang akan menjadi penontonnya. Begitulah kira-kira petuah bagian ini. Bukan cuma petuah itu benar yang ingin aku garis bawahi, melainkan karena aku tak menyangka jika suatu hari, nasibku, akan serupa dengan pianis itu.

Hari itu aku diundang bicara di sebuah mall, di tengah lalu-lalang orang belanja, dan tak seorang pun memperhatikanku. Bahkan ketika MC memintaku naik ke panggung yang bertepuk tangan untukku adalah aku sendiri. Mestinya aku benar-benar butuh seorang untuk bisa kutatap, kuajak bicara tepat di depanku.

Tetapi malang, kursi-kursi yang mestintya ditata di depan pangungku pun gagal di hadirkan karena gudangnya terkunci. Bahkan kursi saja gagal dihadirkan apalagi manusia. Maka satu-satunya mata yang bisa aku pelototi adalah moderatorku sendiri. Ke manapun matanya lari, aku ikuti. Tak kubiarkan dia untuk melihat apapun kecuali mataku. Aku khawatir pandangan matanya akan tertumpuk pada kekosongan, padahal setidaknya masih ada mataku di depan matanya.

Biarlah kami ramai bicara bedua tanpa peduli apakah orang-orang itu mendengar kami atau tidak. Karena setidaknya masih ada seorang moderator di depanku. Jika dia kehabisan pertanyaan pun, akulah yang ganti akan bertanya kepadanya. Jika ia mulai kelihatan lesu, akulah yang akan menggembirakan hatinya. Aku akan ganti menjadi penanya bagi penanyaku itu.

Atau kalau terpaksa, jika moderatorku ini benar-benar menyerah dan memutuskan pergi, misalnya, aku sudah menyiapkan tekatku. Aku akan bicara dengan kursi bekas tempat duduknya. Aku akan bermonolog dengan benda-benda yang ada. Aku sudah bertekat untuk menjadi sibuk dan asyik dengan diriku sendiri, seperti pianis itu bersibuk dengan permainannya. Dan ketika diskusi ini bubar, aku baru tersadar, bahwa setidaknya ada beberapa orang yang sejak awal berdiri di sana untuk menontonku. Tak peduli berapapun jumlahnya, ternyata selalu ada yang mendengar suaraku.

(Prie GS/CN05)

Kamis, November 06, 2008

Parkir Depan Rumah

SETIAP Jumat, saya memiliki ritual khusus. Bukan cuma berupa salat Jumat berjamaah ke masjid depan rumah, tetapi juga menyiapkan tempat parkir khusus di depan rumah. Untuk siapa? Untuk siapa saja sebetulnya, bagi siapa yang kebih dulu mengambilnya. Siapa yang lebih dulu, itulah rezekimu, begitulah prinsipnya. Tetapi anehnya, sudah sekian lama, saya merasa tempat persis di depan rumah itu, seperti cuma untuk mobil yang itu saja. Mestinya ini tidak adil. Tetapi begitulah kenyataannya.

Anehnya tidak cuma saya. Kami sekeluarga, istri dan anak-anak juga memiliki perasaan yang sama. Jika hari Jumat dan jam salat Jumat tiba, di tempat itu, seperti hanya boleh ditempati mobil itu. Jika ia datang tepat waktu, kami lega, karena memang begitulah harapan kami semua. Tetapi jika ada orang lain lebih dulu menempatinya, rasanya kami jadi tidak rela. Sepanjang mungkin, kami akan bernegosiasi, agar pengambil tempat itu mau bergeser agak kemari, kalau perlu menutup gerbang rumah kami juga tak mengapa, sepanjang mobil yang biasa itu nanti akan ada di sana.

Jika kebetulan kami luput mengawasi dan ada jamaah lain yang menempati, karena betapapun itu jalan umum, seperti ada kecemasan di hati kami. Mobil yang biasa itu nanti pasti akan kecewa. Dan ia bisa berputar-putar mencari tempat kosong, tempat yang tidak biasa, dan ini pasti membuat gundah hatinya. Jika begitu keadaanya, kami lalu cuma biasa menatap mobil itu tidak cuma dengan rasa bersalah, tetapi juga rasa sedih. Seolah-olah kami lalai pada kewajiban dan alpa menjaga kebaikan.

Tetapi omong-omong, siapa sebetulnya pemilik mobil itu hingga begitu besar kedudukannya di hati kami. Ia bukan polisi, bukan tentara, bukan pejabat tinggi, dan bukan pula saudara kami. Ia tak lebih dari orang tua biasa, salah satu dari jamaah masjid kami. Ia tetangga, tetapi jauh dan kami juga tidak terlalu dekat secara pribadi. Tetapi yang sedang berlangsung ini memang bukan soal priabdi, melainkan soal bahwa tokoh ini adalah sesepuh di wilayah kami. Ia menjadi sesepuh bukan karena usianya yang sudah sepuh, tetapi lebih karena kebaikannya yang terkenal.

Setiap anak-anak yang bertemu menyapanya seolah ia adalah kakek mereka. Kepada mereka ia sering membagi-bagikan uang ala kadarnya, tetapi pasti bukan besarnya uang itu gara-garanya, melainkan lebih pada bahwa anak-anak itu merasa istimewa kalau sudah mendapat uang darinya. Di jalan saya pernah menaruh iba pada seoang seorang tetangga yang berat bawaannya. Saya yang saat itu bersepeda motor tergerak membantu.

Tapi karena begitu ribet bawaan orang ini sehingga penolong dan yang ditolong malah sama-sama bingungnya. Kami sibuk mencari cara seperti apakah agar bawaan itu lengkap dengan pemiliknya bisa terangkut secara bersama-sama. Lama kami mengatur posisi tapi hingga sejauh itu tak ada posisi yang memadai. Barang-barang itu menyita hampir seluruh jok yang ada, keadaannya menjadi serba sulit. Jika kami mendahulukan barang, maka manusianya tak terangkut dan itu tidak mungkin. Jika kami mendahulukan manusia, sang barang harus ditinggalkan dan itu juga mustahil.

Ketika situasi nyaris deadlock, melintaslah mobil Pak Tua itu dan dengan kebaikan hatinya seluruh persoalan ini selesai. Dialah yang mengambil alih seluruh kerepotan ini dengans segera. Ia pula yang mengantar tetangga itu hingga ke rumahnya yang terletak jauh melewati rumahnya sendiri. Pengambil alihan beban itu mengesankan saya untuk waktu yang lama. Gambaran kebaikan orang tua ini, tidak duma tergambar lewat kedekatanya dengan anak-anak, tetapi juga langsung bersentuhan dengan hidup saya sendiri.

Setiap saat ia parkir di depan rumah itu, ia pasti melihat bahwa ada tanaman sirih di pagar rumah. Maka suatu kali, sambil parkir ia membuka pintu sambil mengirim satu lagi jenis sirih langka untuk pelangkap sirih di rumah kami. Ketika suatu saat, kami sekeluarga masuk rumah makan langganan, orang tua ini sudah ada di sana bersama keluarganya pula. Tanpa diduga, kami ternyata penggemar rumah makan yang sama. Ia datang lebih dulu karenanya juga pulang lebih dulu. Tetapi baru kami tahu kemudian bahwa sambil pulang ia telah membayar seluruh tagihan kami.

Sekali lagi, ini bukan persoalan pribadi mentang-mentang sudah ditrakir makan dan diberi sirih langka. Ini soal seorang tua yang dicintai warga karena kebaikannya yang kebaikan itu kebetulan pernah singgah dalam hidup saya. Maka inilah hasilnya, barang siapa memiliki energi cinta, bahkan tempat untuk pakir mobilnya pun ada yang selalu menjaga.
(Prie GS/CN05)

Rabu, November 05, 2008

Ketika Aku Sedang Tidak Setuju

Di kotaku makin sering berdiri aneka mal. Di antaranya ada yang berlokasi di sebuah tempat yang aku tidak setuju. Tetapi karena mal itu tetap berdiri di situ tanpa peduli aku menolak atau setuju maka aku pun menyalurkan kemarahan dengan caraku sendiri.

Untuk mendemo Pemerintah aku tak punya massa. Untuk menginvestigasi adakah pemberian izin itu adalah penyimpangan, aku tak cukup keahlian. Akhirnya jalan terakhir aku tempuh, aku berencama menolak mal ini cukup di dalam hati. Jika kemarahan ini kulebarkan ia terbatas pada daerah kekuasaanku: yakni keluargaku. Aku melarang anak dan istriku belanja di tempat itu.

Seperti biasa, jika pemimpin keluarga sedang punya kuasa, yang lain menuruti. Aku tak perlu meminta persetujuan dan aku juga tak mau tahu apakah mereka rela atau terpaksa. Ternyata ada di dalam diriku ini naluri totaliter. Jika ada pangkat di pundakku dan hidup di zaman lalu, aku pasti juga berbakat menjadi seorang fasis: pihak yang memaksakan kehendak bukan karena mutunya melainkan karena pangkat dan bedilnya.

Maka berjalanlah larangan itu. Ketika mal ini dibuka dan pengunjung begitu meluap aku bukan tidak mengerti istriku yang menggoda. Ia menyebut-nyebut jumlah barang yang begitu banyak ragamnya dan begitu murah harganya dan cuma di mal itu berada. Rampung mengintimidasi dengan gayanya sendiri, ia juga meminjam dukungan dari anak-anaknya. Dan entah bagaimana caranya, anak-anak ini juga mulai termakan hasutan. Tetapi strategi ibu-anak ini keliru. Karena semakin mereka menyebut nama mal kesukaannya itu hanya makin menerbitkan kemarahanku.

"Inilah susahnya masyarakat yang lugu. Terhadap barang yang keliru pun begitu mudah tertipu," kataku dengan marah. Dan selanjutnya, di depan keluargaku aku bekrotbah. Bahwa langkahku ini adalah strategi kebudayaan yang serius. Strategi yang memakai kekuatan rakyat tertinggi derajatnya yakni boikot. Rakyat memang tidak punya hak mengubah undang-undang, tidak bisa menolak keputusan yang keliru. Tetapi rakyat masih memiliki kekuatan untuk menolak. Itulah boikot namanya. Televisi akan mati jika tidak ditonton, barang akan tidak laku jika tidak dibeli, koran akan bangkrut jika tidak dibaca. Boikot adalah perlawanan yang tak tertandingi jika ia dipercayai.

Tetapi sejak mal ini dibuka, rasaku sudah mulai curiga. Karena dari seluruh penduduk kota, rasanya cuma aku sendiri yang menolak datang ke tempat ini. Tadinya aku marah sekali. Apakah orang-orang itu tidak tahu betapa kelirunya lokasi mal ini. Ia tidak cuma akan memperkeruh tata-kota, melainkan juga akan membunuh para pedagang kecil. Mal sebesar itu hanya layak ada di pinggiran dan tidak dijejalkan di tengah kota yang makin mengonsentrasi kemacetan. Apakah orang-orang itu tidak merasa apa yang aku rasakan? Jeritku dalam hati.

Tetapi karena aku sendirian, lama-lama aku bingung sendiri. Adakah semua ini karena orang-orang itu yang tak tidak mengerti atau karena gaya berpikirku yang sulit diikuti. Lama sekali teka-teki ini gagal aku pecahkan hingga soal-soal yang kusangka idelogis ini ternyata selesai oleh jawaban yang remeh saja. Yakni soal DVD yang lama aku rindukan tetapi tidak pernah berhasil aku miliki. Di internet ia kujelajahi, setiap aku pergi ia kucari, di mana ada penjual aku datangi, seluruh perangkat pergaulan aku kerahkan, tetapi hasilnya sia-sia. Sekian lama aku mencari dan putus asa itulah hasil akhirnya, jika tidak seorang kawan lama tiba-tiba memberi barang tercinta ini begitu saja di suatu kali.

Mataku terbelalak saking gembiranya. Aku anggap teman ini malaikat penemu barang-barang langka. "Langka gimana orang di mal itu banyak sekali, murah lagi!" katanya ringan. Aku terdiam. Kegembiraan yang meluap-luap itu segera kusembunyikan. Di rumah, keinginanku untuk segera menonton DVD ini tak tertahankan. Tetapi sambil menonton terbayang wajah mal yang aku benci itu dengan perasan yang belum rampung kuterjemahkan. Tetapi inilah yang agaknya yang tak bisa kusembunyikan: bahwa membenci pun butuh berhati-hati karena kebaikan ternyata ada di mana-mana bahkan termasuk di dalam diri pihak yang kubenci.

(Prie GS/)