Kamis, Juli 16, 2009

"Jangan Memberi Uang Kepada Anak Jalanan"

''Jangan memberi uang pada anak jalanan, tidak mendidik. Salurkan saja bantuan Anda ke...,'' kata sebuah spanduk. Jika Anda masuk ke kawasan Tugu Muda, Semarang, dan jika spanduk itu belum dicopot, Anda akan menjumpainya.

Bunyi spanduk itu merupakan bagian dari cara pandang banyak pihak terhadap anak jalanan. Tanpa sadar cara semacam itu pula yang bercokol di benak banyak orang. Seorang kawan mengaku tegas-tegas menolak memberi mereka uang, meski uang receh menumpuk di ceruk-ceruk mobilnya. ''Ini bukan masalah duit. Ini soal prinsip. Memberi kail lebih saya sukai katimbang memberi umpan,'' kata si kawan. Jadi, terbukti, bahwa cara berpikir Pemerintah Kota memang tak sendiri.

Apakah cara pandang semacam itu salah? Tidak. Yang salah ialah jika ada yang menganggap bahwa cuma itulah satu-satunya cara memandang persoalan anak jalanan. Karena terbukti, saya sendiri menempuh cara yang berbeda dari Pemerintah Kota. Saya tidak yakin sikap saya ini benar. Tapi izinkan saya menjelaskan alasannya.

Saya mulai saja dari ikrar ini: kepada anak jalanan saya akan selalu memberi mereka uang sepanjang recehan itu masih tersedia. Sebuah niat mulia? Tidak. Penjelasannya adalah sebagai berikut.

Pertama, saya memberi karena saya takut. Takut kendaraan dicoret, takut dimaki, takut dijahati. Tak semua anak jalanan adalah anak kecil dan tak berdaya. Beberapa di antaranya malah bertato dan bertampang galak. Mereka juga selalu berkoloni, bergerombol. Dibanding orang seperti saya, mereka juga pasti lebih siap berkelahi dan sejenisnya. Jadi pemberian karena sebuah ketakutan, pasti bukan kedermawanan.

Kedua, ada kalanya muncul juga rasa iba. Betapapun, saya bisa mengerti beratnya hidup yang mereka tanggung. Minus remaja-remaja yang bertato dan bertampang galak, banyak di antara mereka adalah anak-anak kecil, ibu-ibu hamil, dan wanita-wanita dengan bayi-bayi mereka. Melihat keadan mereka, melihat bagaimana kemiskinan sehebat itu harus menghadapi tekanan kota yang konsumtif dan keras, saya benar-benar tak sempat lagi berdebat soal apakah harus memberi ikan atau kail. Lagipula yang ada ini, yang biasa saya berikan ini, malah bukan ikan bukan kail, tapi sekadar duit receh. ''Jadi ayolah, kenapa harus berfilsafat untuk barang seremeh ini,'' nasihat saya pada diri sendiri. Ini pun bukan kemuliaan. Terharu adalah soal biasa saja. Para pencoleng dan koruptor juga manusia yang bisa terharu.

Ketiga, adalah alasan paling prinsipil yang akhirnya makin meneguhkan ikrar saya. Alasan itu adalah betapa anak-anak jalanan ini hanya produk situasi. Di negara makmur, orang bahkan sudah merasa tertekan ketika berstatus sebagai penganggur, jobless. Antre berdiri mengambil uang santunan pemerintah tak lebih dari antrean aib bagi mereka.

Sementara di sekitar kita makin banyak belaka pihak yang menekuni dunia pengemis. Belum lama ini dua anak, bukan pengemis, mendatangi rumah saya dan meminta-minta. ''Untuk bayar sekolah,'' katanya. Wah ini hebat, bahkan mengemis telah menjadi pilihan pertama dalam dunia kerja. Persis kenyataan di Indonesia. Betapa mental mengemis sebenarnya telah berurat-berakar dengan hebat. Dan itulah kenapa korupsi merajalela. Karena korupsi terjadi jika banyak orang berkelakuan semacam ini: miskin prestasi tapi rakus jabatan, menolak kerja keras tapi ingin bekelimpahan.

Jadi anak-anak jalanan itu bisa saja hanya mewarisi kebudayaan sebelumnya belaka. Jika pihak yang diwarisi itu mati, anak-anak jalanan itu mungkin akan bersih dengan sendirinya.

(PrieGS/)

Senin, Juli 13, 2009

Antara Cinta dan Kesulitan

Antara cinta dan kesulitan terdapat satu kesamaan, yakni agar orang lain mengerti, ia butuh ditunjukkan, tak terkecuali pada anak-anak sendiri. Kejadian yang menimpa istri saya ini salah satu buktinya.

Saya tahu hari itu benaknya berat oleh serangkaian persoalan. Persoalan itu saya tau tak cuma berhenti di pikirannya tapi juga telah melesak ke batinnya. Ia mengaku perutnya seharian mual dan ia menduga sendiri sebabnya. "Mungkin karena aku banyak pikiran," katanya yang segera saya iyakan. Saya tak perlu ragu untuk menyetujui apa yang ia rasakan karena persoalannya adalah juga persoalan yang sedang saya rasakan.

Tepat di saat penuh persoalan itulah anak-anak kami meminta sesuatu dan ketika permintaannya ditolak mereka bereaksi secara keliru. Anak yang kecewa itu menganggap orang tuanya cuma bisa menolak dan amat jarang membahagiakan mereka dengan cara mengabulkan segera permintaannya. Sementara istri tampak terpukul oleh sikap anak-anak yang dianggap tidak tanggap keadaan, anak-anak juga mengurung diri karena merasa hatinya melulu dibuat kecewa.

Di mana posisi saya? Mestinya saya berada di pihak istri. Karena inilah aturannya: anak meminta, istri mengabulkan tapi sayalah yang mencari uangnya. Jadi persoalan istri, persoalan saya juga. Kalau istri kekurangan uang, karena uang yang saya setorkan kepadanya memang sedang tak ada. Maka ketika dalam keadaan tak ada, anak-anak merengek sesuka hatinya, pasti hanya akan membuat kami kecewa. Hampir saja saya bergabung dengan istri untuk marah secara bersama-sama. Untung saya membatalkan niat ini dan memilih berpikir sejenak dari sudut pandang mereka. Saya cukup membayangkan masa kanak-kanak saya sendiri dahulu kala. Saat itu soal yang paling saya tahu adalah meminta. Bukan memahami keadan orang tua. Tak peduli separah itu kemiskinan keluarga, tak henti-henti saya merengek dan meminta.

Jadi begitulah juga anak-anak saya kini. Kesimpulaan saya jelas: saya sedang berhadapan dengan pihak yang sedang tidak tahu. Maka tugas saya mudah saja sebetulnya: tinggal memberi tahu. Saya segera meminta anak-anak berkumpul lengkap dengan ibunya. Saya bercerita tentang persoalan istri yang anak-anak harus mendengarnya. Dimulai dari berapa gaji bapaknya sebagai wartawan. Setelah paham jumlahnya, anak-anak saya ajak melihat seluruh kebutuhan keluarga lengkap dengan ruang lingkupnya, dimulai dari kebutuhan mereka sendiri.

Hasilnya, mereka sama-sama melihat kenyatan ajaib: bahwa SPP, buku, nonton, seragam, uang saku, uang mainan, uang jajan, renang, makan di luar, selama sebulan sudah menelan hampir seluruh gaji bapaknya. Jadi dengan cepat mereka tahu, bahwa orang tuanya bukan orang kaya. Jika selama ini kehidupan mereka berjalan baik-baik saja, karena orang tuanya harus berakrobat sedemikian rupa. Dan biar lebih dramatik, saya beberkan seluruh kebutuhan keluarga lengkap setiap bulannya: listrik, ledeng, telepon, pulsa, belanja harian, baju, buku, sepatu, iuran ini, iuran itu, sumbangan ini, sumbangan itu, bantuan untuk saudara ini, bantuan untuk saudara itu, bayar asuransi, gaji pembantu, gaji pak sopir, ... panjang sekali daftar itu, saya buat perinciannya, saya jumlahkan, saya bandingkan lagi dengan gaji resmi dan saya sodorkan kekurangannya untuk saya meminta pendapat mereka dengan cara apa kekurangan itu harus diperoleh.

Hasilnya lumayan. Anak-anak itu menunduk dan akal sehat mereka mulai bekerja betapa tanpa kerja keras, begitu gawat keadaan orang tuanya. "Kalian meminta, tepat ketika ibumu sedang memecahkan seluruh kesulitan keluarga," tambah saya. Anak-anak makin menunduk. Dan hasil akhirnya, si kecil menyerahkan buku tabungannya untuk dihibahkan, si sulung menguras isi dompetnya untuk diserahklan kepada Ibu mereka. Kini ganti istri saya yang menunduk kehilangan kata-kata. Begitulah watak cinta dan kesulitan. Tak perlu banyak diperdebatkan, lempar saja datanya, dan biar pihak lain yang mengurai dengan akal sehatnya, termasuk anak-anak kita.

(/)

Sabtu, Juni 27, 2009

Saya Menang Lotere

Di email saya datang pengumuman, karena keaktivannya email ini memenangi lotere sebesar 500 ribu pound. Email itu diundi secara acak dari jutaan email dan cuma memunculkan lima pemenang dengan saya sebagai salah satunya. Panitia, yang mengaku Microsoft Team yang berkedudukan di London, meminta seluruh data saya untuk diverifikasi dan dibuatkan sertifikat kemenangan.

Sertifikat ini oleh sebuah perusahan jasa kurir akan diantar dengan dua pilihan waktu: kilat atau biasa, sudah tentu dengan harga yang berbeda. Kenapa ongkos kirim untuk selembar kertas yang membutuhkan biaya ratusan dollar. Karena: "Jangan diukur berdasarkan berat objektifnya, tetapi dari berat 'berat dimensional'," kata panitia.

Terjemahan bebasnya mungkin: sebuah benda yang dimensinya tidak cuma kertas, tetapi juga kertas seharga 500 ribu pound. Karenannya mengirim cuma ratusan dolar untuk kemenangan sebanyak itu, apalah artinya. Tak lupa, panitia mengingatkan agar saya segera memenuhi tenggat pembayaran. Singkat waktunya, tak lebih dari dua hari. Jika tidak hadiah itu akan diberikan kepada peserta lain.

Saya sungguh melayani suarat ini dengan serius, karena saya melihat surat mereka juga serius. Saya mengirim seluruh data yang mereka minta. Begitu data terkirim, datang lagi jawaban mereka lengkap dengan gambar sertifikat kemenangan dengan nama saya. Saya sertakan juga bakan nomor HP saya sebagai bukti kesungguhan saya, sebagai balasan atas kesungguhan mereka. "Jangan segan-segan mengontak kami, jika Anda membutuhkan pertanyaan," pinta mereka. "Terima kasih. Juga jangan sungkan-sungkan menghubungi saya kapanpun Anda mau," jawab saya.

Jangankan panitia yang akan memberi saya hadiah, bahkan pendengar siaran saya, pembaca buku-buku saya, hampir semuanya dengan mudah saya beri nomor pribadi. Saya balas SMS mereka satu persatu sekuat saya. Saya jawab seluruh pertanyaan mereka jika saya bisa. Kadang melelahkan, tetapi saya bahagia melakukannya. Di antara para penanya yang sebagian besar adalah para pelajar dan mahasiswa itu, kelak pasti akan ada yang menjadi para pemimpin, orang-orang penting dan berkah bagi sesama. Ini semacam latihan tugas pelayanan, yang ketika saya kuat melakukan ternyata mendatangkan kegembiraan.

Jika anak-anak muda itupun saya layani, apalagi pihak yang akan memberi 500 ribu pound pada saya. Jumlah ini besar sekali. Saya bisa membangun rumah plus naik haji. Maka kepada mereka saya berlaku sebaik-baiknya. Tidak cuma saya balas surat-suratnya, tetapi juga saya katakana siapa saya secara panjang lebar. Bahwa saya ini seniman yang juga pernah duduk sebagai bendahara koperasi di RT saya. Kalau ada waktu mampirlah, toh alamat saya juga jelas. Bahwa anak saya yang bungsu sedang ulang tahun dan baru saja jadi siswa teladan di sekolahnya. Saya katakan bahwa meskipun uang hadiah itu amat besar untuk ukuran keluarga kami, tetapi kami tetaplah keluarga sederhana.

Kami sudah merasa cukup dengan yang ada, karena meskipun keadaan sedang dianggap susah, toh harga-harga sayur di depan rumah tetap murah. Lagipula kebutuhan kami juga itu-itu saja. Kesukaan kami sehari-hari masih seperti biasa: sayur sawi, sambal terasi, tempe goreng dan ikan asin. Maka lepas dari rasa bahagia kami karena akan mendapatkan 500 ribu pound, saya katakan kepada Panitia Microsoft Team, bahwa uang itu terlalu besar dan kami takut jika ia malah akan mengubah kesehatan mental kami. Maka dengan segenap permintaan maaf, saya meminta panitia untuk mengurus hadiah saya itu dan dengan tulus ikhlas saya meminta mereka agar sudi menyumbangkan saja seluruhnya kepada keluarga Bill Gates, sang pendiri Microsoft yang barangkali lebih membutuhkan.

Tapi surat saya yang terakhir ini tak lagi ada balasan. Padahal saya masih menunggu.
(/)

Minggu, Juni 21, 2009

Penjual yang Tidak Berjualan (1)

Saya kesulitan menolak penjual yang satu ini, lebih karena pada dasarnya ia bukan seorang penjual, ia juga tidak sedang berjualan, walau ia sedang melakukan aktivitas penjualan. Ia adalah salah satu pendengar siaran radio saya. Seorang yang mengalami kebutaan secara bertahap. Dari terang menuju gelap dan untuk akhirnya sama-sekali gelap, adalah derita yang hanya dengan membayangkan saja sudah terasa beratnya.

Tetapi teman ini enak saja menceritakan seluruh deritanya. "Melek saya pernah, buta saya pernah. Jadi lengkap hidup saya," katanya ringan. Sebelum pandangannya gelap total, ia sampai pada tahapan kabur. Sebuah tahapan yang menurutnya sangat menyiksa. Sebagai orang normal ia tidak lagi awas, sebagai orang buta, syarafnya belum terlalu peka. Jadi tanggung. Akibatnya ia sering harus meraba-raba untuk sampai ke tempat-tempat yang bahkan telah ia hafali ketika matanya masih awas.

Ia seorang guru. Dalam keadaan mata mengabur ia masih terus mengajar dan memasuki ruang kelas dengan merambat, menyentuhi apa saja dengan tangannya dan sesekali kepalanya harus terantuk benda-benda dan setelah sampai di kelas hanya ditinggalkan satu-persatu oleh murid-muridnya. "Pada keluar diam-diam dan yang tersisa tinggal empat orang," katanya. Dengan nada sedih? Tidak. Ia geli menterawai nasibnya sendiri.

Di kampungnya ia pernah menjadi bahan tertawaan ketika mencoba berjalan di jalan lurus yang rasanya telah ia hafali tetapi keadaan terbaru tak lagi ia kenali. Ia heran kenapa jalannya makin ke depan makin mendaki. Setelah terdengar gelak tawa di sekitar baru ia sadar bahwa ia sedang mendaki tumpukan pasir yang ditimbun di jalan itu. Di dalam angkot ia pernah disembur makian karena apa yang ia sangka sebagai jok adalah pangkuan seorang perempuan. Seluruhnya yang ia ceritakan adalah derita. Tetapi ia menceritakannya dengan kegelian yang nyata.

Orang inilah yang suatu kali bertelpon mengeluhkan keadaan ekonominya yang parah. Ia tinggak cuma bersama ibunya yang tua dengan pekerjaan yang sama sekali tak ada. Seluruh kemampuannya seperti tak berguna lagi ketika matanya dinyatakan buta total. Dan satu-satunya aset yang ia miliki hanyalah rumah tipe sangat sederhana ia beli secara kredit saat menjadi guru dan kini rumah itu terbengkalai begitu saja. Rumah itulah yang ia tawarkan pada saya, dan satu saja alasnanya: karena ia percaya bahwa saya adalah orang baik hati. "Setidaknya dari suara Anda yang saya dengar di radio," katanya.

Ditempatkan sebagai orang baik hati benar-benar membuat saya tersudut dan tegang karena saya paham apa konsekuensinya. Karena sudah dianggap baik hati, maka rumah itu harus saya beli, itulah pesannya. Tetapi ini soal membeli rumah. Meskipun tipe sangat sederhana (bobrok pula), duitnya pasti besar untuk ukuran penghasilan saya saat itu. Jadi jika memberatkan hidup, saya pasti lebih memilih kehilangan gelar baik hati ketimbang harus mempertaruhkan nasib sendiri. Apa sikap saya selanjutnya akan saya ceritakan pekan depan!

(/)

Rabu, Juni 10, 2009

Nasihat dari CD Porno

Seorang yang kecewa, menulis surat pembaca di sebuah harian ibu kota terkemuka. Isinya: anjuran untuk tidak membeli CD di pinggir jalan karena banyak barang palsu, cover tidak cocok dengan isi. "Saya membeli 12 keping CD porno, tapi setelah saya stel isinya lagu-lagu daerah," begitulah kira-kira tulis pengirim surat. Suratnya kemudian menegaskan perang pada pemalsuan.

Saya berterima kasih atas anjurannya, tapi jauh lebih berterima kasih atas keterusterangannya. Untuk berani jujur mengaku tengah membeli CD porno pun butuh keberanian, ee jumlahnya 12 keping lagi! Karena tidak ada informasi yang pasti apakah niat pembelian CD cuma untuk koleksi, untuk penelitian, atau untuk sekadar penghibur syahwat, maka saya lebih tertarik unutk memilih yang terakhir sebagai asumsi: persoalan syahwat biasa.

Perkara kemudian CD itu semuanya palsu, cuma berisi lagu-lagu daerah, adalah humor yang lain. Perkara kemudian ada orang yang kecewa lalu beralih menjadi pejuang anti pemalsuan adalah parodi yang lain lagi.

Tapi yang lebih penting dari itu semua adalah, betapa meriah sekarang ini pameran aib di depan publik. Lihat saja pengakuan pasangan selebritis yang kemudian bercerai ini. Komentar si laki-laki: "Ketika saya kawini dia sudah tidak perawan." Komentar perempuan. "Saya aborsi begini juga demi nama baik dia dan keluarganya!"

Hebat sekali. Masyarakat begini gampang mendapat informasi bahwa artis cantik yang sering muncul di sinetron anu itu ternyata sudah lama tidak perawan lagi. Bahwa cowok keren yang bintang iklan itu juga telah lama tidak perjaka lagi. Hebat sekali bahwa aborsi yang di Indonesia masih dinyatakan sebagai tindakan ilegal itu telah menjadi legal di mana-mana. Luar biasa bahwa niat aborsi yang cuma disebabkan oleh ogah hamil itu bisa untuk membela nama baik. Jadi ada jenis nama baik yang dibangun di atas pembunuhan embrio bayi.

Dengan pengakuan sehebat ini, angket-angket dan penelitian seks yang disiapkan oleh para akademisi sebetulnya tak perlu lagi. Bahwa angket di kota anu yang mengatakan 97 pesren mahasiswi sudah tidak perawan, bahwa 95 persen dari ABG yang pacaran selalu berhubungan badan, tak perlu bikin kaget lagi.

Karena tanpa disodori angket dan pertanyaan pun, akan makin banyak orang mengaku secara suka rela. Aib wanita akan dibuka oleh mantan-mantan suami mereka. Aib laki-laki akan dibuka dengan suka cita oleh mantan istri-istri mereka. Bursa pengakuan ini pasti akan makin ramai jika sudah pula dimasuki oleh para pelaku selingkuh, istri simpanan, pacar gelap, para gigolo. Daftar ini masih bisa memanjang lagi jika para pelacur dari berbagai kelas membongkar identitas para pelanggannya.

Nanti pasti akan ada dunia tanpa aib, karena semua jenis aib mungkin didiskusikan, di seminarkan dan dibuat pengakuan secara terbuka. Di dunia yang penuh intrik dan pertengkaran, manusia akan makin sulit menemukan alat untuk memuaskan naluri kebenciannya. Untuk ini, bukan tidak mustahil, akan banyak pasangan yang merekam hubungan badan mereka, merekam adegan-adegan paling sensitif untuk kelak disebarluaskan jika masa pertengkaran tiba.

Modus penyebaran aib itu bisa jadi tidak cuma akan lewat pengakuan di media massa tapi juga lewat pemutaran slide, pemutaran video di tempat-tempat tertentu dengan memungut karcis segala. Dan jika hal ini dirasa belum cukup bagi hasrat kebencian, akan dibuatlah rekaman itu ke dalam versi layar lebar untuk bisa diputar di lapangan-lapangan terbuka sebagai bioskop misbar alias jika gerimis bubar! (03)

(PrieGS/)